BAB
I. PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pembangunan
kesehatan pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia. Salah satu upaya
pembangunan kesehatan yang dilakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan
adalah melalui Program Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) yang bertujuan
untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan serta mengurangi
dampak sosial dari penyakit menular. Dengan kemajuan teknologi, di negara maju
banyak penyakit menular yang telah mampu diatasi, bahkan ada yang telah dapat
dibasmi. Namun, masalah penyakit menular masih tetap dirasakan oleh sebagian
besar penduduk negara berkembang, dan tak jarang penyakit menular ini dapat
disembuhkan dengan bantuan alat medis, karena penyebab ataupun faktor penyebab
penyakit menular, salah satunya adalah penyakit meningitis. Penyakit meningitis
ini masih banyak kita jumpai di beberapa negara berkembang. Dan faktor penyebab
penyakit meningitis tergantung akan virus ataupun bakteri ini dapat menyebabkan
kematian. Penyakit meningitis sendiri juga tak banyak orang awam yang tahu. Oleh
karena itu, dalam makalah ini akan dibahas berbagai informasi tentang penyakit
meningitis.
B. Tujuan
1. Mengetahui
tentang penyakit Meningitis
2. Mengetahui
berbagai macam jenis penyakit meningitis
3. Mengetahui
faktor-faktor yang berkaitan dengan penyakit meningitis
4. Mengetahui
cara pencegahan penyakit meningitis
C. Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan penyakit meningitis ?
2. Apa
saja jenis penyakit meningitis ?
3. Gejala
apa saja yang diberikan penyakit meningitis ?
4. Bagaimana
cara pencegahan penyakit meningitis ?
BAB
II. ISI
A. Identifikasi
Penyakit Meningitis
Meningitis
adalah suatu peradangan dari selaput-selaput (yang disebut meninges) yang
mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (spinal cord) yang mengenai
piameter (lapisan dalam selaput otak) dan arakhnoid.
Meningitis
dapat disebabkan oleh virus, bakteri, riketsia, jamur, cacing dan protozoa.
Meningitis terbagi menjadi dua
golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak yaitu meningitis
serosa dan meningitis purulenta.
Meningitis serosa itu ditandai
dengan jumlah sel dan protein yang meninggi disertai cairan serebrospinal yang
jernih. Meningitis serosa biasanya disebabkan oleh kuman Tuberculosis dan
virus. Sedangkan meningitis purulenta atau meningitis bakteri merupakan
meningitis yang bersifat akut dan menghasilkan eksudat berupa pus serta bukan
disebabkan oleh bakteri spesifik maupun virus. Infeksi pada meningitis purulenta mempunyai
kecenderungan pada golongan umur tertentu, yaitu
·
Golongan neonatus paling banyak
disebabkan oleh E.Coli, S.beta hemolitikus dan Listeria monositogenes.
·
Golongan umur dibawah 5 tahun (balita)
disebabkan oleh H.influenzae, Meningococcus dan Pneumococcus. Golongan
umur 5-20 tahun disebabkan oleh Haemophilus influenzae, Neisseria
meningitidis dan Streptococcus Pneumococcus, dan
·
Golongan pada usia dewasa (>20 tahun)
disebabkan oleh Meningococcus, Pneumococcus, Stafilocccus,
Streptococcus dan Listeria.20
Penularan meningitis
dapat terjadi secara kontak langsung dengan penderita dan droplet infection yaitu
terkena percikan ludah, dahak, ingus, cairan bersin dan cairan tenggorokan penderita.
Dan melalui saluran pernapasan utama meningitis dapat ditularkan kepada orang
lain dengan cara melalui pertukaran udara dari pernafasan dan sekresi-sekresi
tenggorokan yang masuk secara hematogen (melalui aliran darah) ke dalam cairan
serebrospinal dan kemudian akan memperbanyak diri didalamnya sehingga
menimbulkan peradangan pada selaput otak dan otak.
B. Jenis
Meningitis
1. Meningitis
Viral / Meningitis Aseptik
Meningitis
yang disebabkan virus yang multiple. Virus yang paling umum menyebabkan meningitis adalah kelompok virus
yang disebut
enterovirus. Ada banyak virus yang berbeda yang dapat menyebabkan meningitis
salah satunya Virus coxsackie
grup B tipe 1-6 sebagai penyebab dari 1/3 kasus meningitis, dan cara di mana
virus menyebar akan tergantung pada jenis virus tersebut. Meningitis virus dapat
menyerang setiap kelompok usia, tetapi lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Bayi dan anak-anak
lebih berisiko karena pertahanan tubuh mereka belum sepenuhnya berkembang, jika
virus menyerang tubuh, sistem kekebalan tubuh mereka tidak bisa memberikan
perlawanan untuk melawan infeksi.
Sebagian
besar orang yang mendapatkan meningitis aseptik akan mendapat pemulihan yang
baik dengan efek setelahnya yang tidak tahan lama, namun ada pula orang yang
mendapatkan efek cacat permanen. Efek setelah meningitis virus biasanya
·
Kelelahan
·
Sakit
kepala
·
Kehilangan
memori
·
Kegelisahan
·
Depresi
·
Pusing
/ masalah keseimbangan
·
Kesulitan
mendengar
Beberapa
jenis meningits virus dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi yang tersedia
sebagai bagian dari Program Imunisasi Anak untuk mencegah meningitis yang
disebabkan oleh gondok dan campak. Mempraktekkan
kebersihan yang baik, seperti mencuci tangan setelah pergi ke toilet, akan
membantu untuk mencegah penyebaran virus yang lulus dalam tinja.
2. Meningitis
Bakterial
Meningitis
bakterial biasanya terjadi karena
bakteri memasuki aliran darah dan bermikrasi ke otak dan sumsum tulang
belakang. Tapi ini bisa juga terjadi karena bakter langsung menyerang meninges
sebagai akibat dari infeksi telinga, sinus, atau patah tulang tengkorak.
a) Meningitis Meningokokus
Infeksi oleh
bakteri Neisseria meningitidis atau
biasa dikenal dengan meningococcus yang
menyebabkan terjadinya peradangan atau pembengkakan pada selaput yang menutupi
sumsusm tulang belakangan dan bagian otak. bakteri ini menginfeksi saluran
pernapasan atas yang kemudian masuk ke aliran darah. Meningitis ini lebih banyak menyerang anak-anak dan
kalangan remaja. Adapun gejala-gejala meningitis meningkokus :
·
Perubahan
mental
·
Mual-mual
dengan disertai muntah
·
Sakit kepala
·
Sensitif
terhadap cahaya
·
Leher terasa
kaku
·
Kehilangan
kesadaran
·
Ritme nafas
lebih cepat dari biasanya
·
Kepala dan
leher melengkung ke belakang
b) Haemophilus
Meningitis
Meningitis
yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae. Timbulnya gelaja meningitis ini dapat subakut tetapi biasanya
muncul mendadak dengan gejala : demam,
muntah, letargi dan iritasi meningeal, dengan ubun-ubun menonjol pada bayi atau
kaku kuduk dan kaku punggung pada anak yang lebih besar. Haemophilus Meningitis ini dapat dicegah
dengan pemberian vaksin Hib pada anak usia 2-12 bulan.
c) Penumococcal
Meningitis
Salah satu meningitis bakterial akut yang disebabkan bakteri Streptococcus pneumoniae,
bakteri ini menjadi penyebab utama terjadinya serangan pneumococcal pada
anak-anak ataupun orang dewasa. Pneumococcal meningitis dapat muncul
sebagai penyakit sporadis pada neonatus, pada orang usia lebih tua dan kelompok
tertentu yang berisiko seperti pasien tanpa limpa dan pada penderita dengan
hipogamaglobulinemia.
3. Meningitis jamur
Meningitis yang disebabkan karena infeksi jamur yang terdapat pada selaput hingga
menutupi otak dan sumsum tulang belakang.
Meningitis Cryptococcal adalah bentuk infeksi
meningitis jamur, yang disebabkan oleh jamur Cryptococcus neoformans yang banyak ditemukan
dalam tanah. Beberapa gejala yang sering ditemukan pada pasien meliputi:
·
Mual dan
muntah
·
Demam
·
Leher terasa
kaku
·
Sensitif
terhadap cahaya
·
Sering
berhalusinasi
C. Gejala
Klinis Meningitis
Gejala-gejala
meningitis pada umumnya ditandai dengan :
1.
panas mendadak
2.
sakit kepala parah
3.
sensitivitas dan mata
sakit pada paparan cahaya
4.
kekakuan leher
5.
letargi
6.
muntah
7.
kejang
sedangkan, gejala pada anak umur dibawah 1 tahun
ditandai dengan :
1.
demam
2.
muntah
3.
nafsu makan turun
4.
kulit pucat dan jerawat
5.
menjadi lesu dan tidak respontif
6.
memiliki ruam yang tidak hilang bila ditekan
Dan gejala meningitis tergantung bakteri atau virus
yang menyebabkan, misalnya
1)
Meningitis karena virus yang ditandai dengan cairan
serebrospinal yang jernih serta rasa sakit penderita tidak terlalu berat. Pada
umumnya, meningitis karena virus yang
disebabkan oleh
-
Mumpsvirus ditandai dengan gejala anoreksia dan
malaise, kemudian diikuti oleh pembesaran kelenjer parotid sebelum invasi kuman
ke susunan saraf pusat.
-
Echovirus ditandai dengan keluhan sakit
kepala, muntah, sakit tenggorok, nyeri otot, demam, dan disertai dengan
timbulnya ruam makopapular yang tidak gatal di daerah wajah, leher, dada,
badan, dan ekstremitas.
-
Coxsackie virus yaitu tampak lesi vasikuler
pada palatum, uvula, tonsil, dan lidah dan pada tahap lanjut timbul keluhan
berupa sakit kepala, muntah, demam, kaku leher, dan nyeri punggung.
2) Meningitis bakteri biasanya
didahului oleh gejala gangguan alat pernafasan dan gastrointestinal. Meningitis
bakteri pada neonatus terjadi secara akut dengan gejala panas tinggi, mual,
muntah, gangguan pernafasan, kejang, nafsu makan berkurang, dehidrasi dan
konstipasi, biasanya selalu ditandai dengan fontanella yang mencembung, dan
kejang-kejang. Dan Cairan serebrospinalnya akan tampak kabur, keruh atau
purulen.
3) Meningitis Tuberkulosa terdiri dari
tiga stadium, yaitu
a) stadium I atau stadiumprodormal, terjadi
selama 2-3 minggu dengan gejala ringan dan nampak seperti gejala infeksi biasa.
Pada anak-anak permulaan penyakit bersifat subakut, dengan gejala demam, muntah-muntah,
nafsu makan berkurang, murung, berat badan turun, mudah tersinggung, cengeng,
opstipasi, pola tidur terganggu, dan gangguan kesadaran berupa apatis. Pada
orang dewasa terdapat panas yang hilang timbul, nyeri kepala, konstipasi,
kurang nafsu makan, fotofobia, nyeri punggung, halusinasi, dan sangatgelisah.
b) Stadium II atau stadium transisi, berlangsung
selama 1 – 3 minggu dengan gejala penyakit lebih berat dimana penderita
mengalami nyeri kepala yang hebat dankadang disertai kejang terutama pada bayi
dan anak-anak. Tanda-tanda rangsangan meningeal mulai nyata, seluruh tubuh
dapat menjadi kaku, terdapat tanda-tanda peningkatan intrakranial, ubun-ubun
menonjol dan muntah lebih hebat.
c) Stadium III atau stadium terminal, ditandai
dengan kelumpuhan dan gangguan kesadaran sampai koma. Pada stadium ini
penderita dapat meninggal dunia dalam waktu tiga minggu bila tidak mendapat
pengobatan sebagaimana mestinya.
D.
Epidemilogi Meningitis
Umur dan daya tahan
tubuh sangat mempengaruhi terjadinya meningitis. Penyakit ini lebih banyak
ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan dan distribusi terlihat lebih
nyata pada bayi. Sedangkan meningitis purulenta lebih sering terjadi pada bayi
dan anak-anak karena sistem kekebalan tubuh belum terbentuk sempurna. Risiko
penularan meningitis juga umumterjadi pada keadaan sosio-ekonomi yang rendah,
lingkungan yang padat (seperti asrama, kamp-kamp tentara dan jemaah haji), dan
penyakit ISPA. Penyakit ini juga banyak di jumpai pada negara yang sedang berkembang
dibandingkan dengan negara maju, akan tetapi pada negara bagian amerika dan
eropa penyakit ini sering muncul atau terjadi ketika musim panas, di karenakan
juga pada musim ini infeksi pada salauran pernapasan meningkat sehingga
memudahkan terjadinya infeksi meningcocus.
E.
Pencegahan
Meningitis
a.
Pencegahan
Primer
Mencegah timbulnya
faktor resiko meningitis bagi individu yang belum mempunyai faktor resiko,
dapat dilakukan dengan :
1)
Melaksanakan
pola hidup sehat
2)
Pemberian
imunisasi meningitis pada bayi untuk membentuk kekebalan tubuh
3)
Pemberian
antibiotik kepada orang yang dekat atau serumah dengan penderita
4)
mengurangi
kontak langsung dengan penderita dan mengurangi tingkat kepadatan di lingkungan
perumahan dan di lingkungan seperti barak, sekolah, tenda dan kapal.
5)
Meningitis
juga dapat dicegah dengan cara meningkatkan personal hygiene seperti
mencuci tangan yang bersih sebelum makan dan setelah dari toilet.
6) Pemberian penyuluhan kepada
masyarakat tentang meningitis
b.
Pencegahan
Sekunder
Pencegahan sekunder
bertujuan untuk menemukan penyakit sejak awal, saat masih tanpa gejala
(asimptomatik) dan saat pengobatan awal yang dapat menghentikan perjalanan
penyakit. Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan diagnosis dini dan pengobatan
segera. Dalam
mendiagnosa penyakit pada penderita dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik,
pemeriksaan cairan otak, pemeriksaan laboratorium yang meliputi test darah dan
pemeriksaan X-ray (rontgen) paru dan kepala (periksa mastoid, sinus
paranasal, gigi geligi). Penderita juga diberikan pengobatan dengan memberikan
antibiotik yang sesuai dengan jenis penyebab meningitis tersebut.
c.
Pencegahan
Tertier
Pencegahan tertier
merupakan aktifitas klinik yang mencegah kerusakan lanjut atau mengurangi
komplikasi setelah penyakit berhenti. Pada tingkat pencegahan ini bertujuan
untuk menurunkan kelemahan dan kecacatan akibat meningitis, dan membantu
penderita untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisi-kondisi yang tidak
diobati lagi, dan mengurangi kemungkinan untuk mengalami dampak neurologis
jangka panjang misalnya tuli atau ketidakmampuan untuk belajar. Penderita juga
dapat diberikan Fisioterapi dan rehabilitasi untuk mencegah dan mengurangi
cacat.
BAB
III. PENUTUP
A. Kesimpulan
Meningitis dibagi menjadi dua
golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak yaitu meningitis
serosa dan meningitis purulenta.Meningitis dapat disebabkan oleh virus,
bakteri, riketsia, jamur, cacing dan protozoa. Penyebab paling sering adalah
virus dan bakteri. Meningitis yang disebabkan oleh bakteri berakibat lebih
fatal dibandingkan meningitis penyebab lain karena mekanisme kerusakan dan
gangguan otak yang disebabkan oleh bakteri maupun produk bakteri lebih berat.
Pencegahan meningitis dapat dilakukan mulai dari paling sederhana, yaitu
mencuci tangan sebelum dan seseudah melakukan aktifitas, hal tersebut dapat
mengurangi terjadinya penyakit meningitis
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar